Memaknai Hari Kartini: Dari Surat-suratnya, Perempuan Belajar Mengenal Nilai dan Mendengar Suara Hati Sendiri

Bandung (21/04/2026) — Setiap tanggal 21 April, Indonesia memperingati Hari Kartini, sebuah momen untuk mengenang perjuangan Raden Ajeng Kartini atau kerap disapa R. A. Kartini, perempuan kelahiran Jepara yang menjadi simbol emansipasi wanita di Nusantara. Namun, di balik perayaan saat ini Hari Kartini tidak hanya dijadikan sebagai ajang untuk menggunakan kebaya dan lomba memasak saja, tapi ada warisan Kartini yang jauh lebih dalam dan sering terlewatkan yaitu, keberanian untuk mendengar suara hati mereka sendiri.
Melalui surat-suratnya yang dikumpulkan dalam buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”, Kartini tidak hanya berbicara tentang pendidikan atau kesetaraan gender. Tapi, ia berbicara tentang perjalanan batin, tentang seorang perempuan yang berani mempertanyakan siapa dirinya, apa yang ia percaya, dan nilai apa yang ingin ia pegang dalam hidupnya.

Kartini mulai menulis surat kepada sahabat penanya di Belanda sejak usia 20 tahun. Ia menulis dengan jujur tentang rasa frustasinya terhadap adat yang mengikatnya, tentang mimipi-mimpinya yang besar, dan tentang keraguannya sebagai seorang perempuan yang hidup di antara dua dunia yaitu, tradisi Jawa dan modernitas Eropa. Yang membuat surat-surat itu istimewa bukan hanya isinya, tetapi prosesnya. Kartini menulis sebagai cara untuk memahami dirinya sendiri. Ia tidak sekadar mencurahkan perasaan tetapi ia menganalisis, merenung, dan menarik kesimpulan tentang nilai-nilai yang ia pegang.

“Tiada henti-hentinya kubertanya pada diriku sendiri: Siapakah aku? Apa yang sesungguhnya aku inginkan dari hidup ini?”

Kalimat inilah yang menjadi bukti bahwa Kartini adalah seorang perempuan yang rajin melakukan apa yang kita kenal sebagai self-reflection, suatu praktik yang sangat relevan di zaman modern. Butuh sebuah keberanian tentunya untuk menentukan nilai-nilai sendiri, bahkan ketika nilai itu bertentangan dengan lingkungannya. Di saat banyak perempuan di zamannya menerima nasib tanpa pertanyaan, namun Kartini berani bertanya Apakah ini benar? Apakah ini yang aku yakini?

Keberanian ini bukan tentang melawan secara kasar, namun tentang memiliki ketenangan batin. Kartini tidak membenci tradisi tapi ia mencintai budayanya. Namun ia juga sadar bahwa mencintai budaya tidak berarti harus menerima segalanya tanpa adanya refleksi kritis. Disinilah relevansi Kartini untuk perempuan masa kini menjadi sangat nyata. Di era media sosial, perempuan sering kali dibanjiri standar-standar eksternal, seperti standar kecantikan, standar kesuksesan, dan standar menjadi seorang istri dan ibu yang sempurna. Ketika dunia luar semakin keras berteriak, mengenal nilai diri sendiri dan mendengar suara hati menjadi pelindung yang paling kuat.

“Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu. Tapi satu-satunya hal yang benar-benar dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri.”

Dalam dunia yang sering menuntut perempuan untuk tampak lemah, kesempurnaan dan selalu bahagia, warisan Kartini mengingatkan kita bahwa keaslian diri adalah nilai yang paling berharga. Mengakui perasaan bukanlah kelemahan, namun, berbicara tentang apa yang kita rasakan dan pikirkan adalah suatu bentuk dari kekuatan.
Hari Kartini bukan sekadar tentang mengenakan kebaya atau mengikuti lomba. Ia hadir untuk merenungkan kembali siapa kita sebagai perempuan Indonesia. Warisan terbesarnya adalah keberanian berpikir, nilai yang kita pegang, dan jalan yang kita pilih untuk melanjutkan perjalanan mimpi-mimpi kita.

"Dan biarpun saya tiada beruntung sampai ke ujung jalan itu, meskipun patah di tengah jalan, saya akan mati dengan rasa berbahagia, karena jalannya sudah terbuka dan saya ada turut membantu mengadakan jalan yang menuju ke tempat perempuan Bumiputra merdeka dan berdiri sendiri."

Written By: Ilma Nur Maulani (Sos’24)

Scroll to Top