Idul Fitri adalah momen sakral yang senantiasa dinantikan oleh umat Islam. Ia menandai berakhirnya bulan Ramadan, sebuah bulan penuh pelatihan spiritual, moral, dan sosial yang dijalani selama tiga puluh hari. Namun, Idul Fitri sejatinya bukan hanya penutup dari ritual puasa, melainkan juga momentum kontemplatif untuk mengembalikan manusia kepada fitrah—kesucian dan keutuhan dirinya sebagai makhluk spiritual dan sosial. Dalam diskusi bersama Dr. Hamzah Turmudi, M.S., seorang akademisi dan praktisi keislaman, makna Idul Fitri dijelaskan dengan begitu mendalam, menyentuh dimensi hubungan manusia dengan Tuhan (habluminallah) sekaligus dengan sesama (habluminannas).
Dalam penjelasannya, Dr. Hamzah membedakan dua istilah penting dalam konteks puasa: saum dan shiyam. Meskipun keduanya sering dianggap sama, maknanya ternyata berbeda secara terminologis. Saum merujuk pada tindakan menahan diri dari berbicara, seperti dalam kisah Maryam dalam Al-Qur’an ketika ia memilih diam sebagai bentuk ibadah. Sebaliknya, shiyam memiliki arti yang lebih luas, yakni pengendalian dan manajemen terhadap seluruh potensi diri, termasuk pikiran, lisan, perasaan, hingga hawa nafsu. Ini menunjukkan bahwa puasa bukan hanya sekadar tidak makan dan minum, melainkan latihan menyeluruh dalam menata diri.
Dari sinilah muncul makna fitrah dalam Idul Fitri. Kata fitrah yang beririsan dengan futur (berbuka), mengisyaratkan bahwa Idul Fitri bukan hanya soal berhenti berpuasa, tetapi tentang kembalinya manusia ke dalam kesucian diri setelah menjalani proses panjang pengendalian selama Ramadan. Saat seseorang berhasil menjalani shiyam dengan benar, ia tidak hanya memperoleh pahala, tetapi juga transformasi jiwa yang membuatnya kembali ke kondisi fitrah, sebagaimana bayi yang baru dilahirkan. Penggunaan kata shiyam dalam Al-Qur’an, bukan saum, semakin menegaskan bahwa inti dari ibadah puasa adalah pengelolaan diri secara menyeluruh. Ramadan menjadi ruang pelatihan intensif untuk melatih self-control, atau dalam bahasa kontemporer, penguatan kecerdasan emosional dan kesadaran diri. Ketika Ramadan usai, seharusnya nilai-nilai itu tidak ikut berakhir, melainkan terinternalisasi dan terus hidup dalam perilaku sehari-hari.
Dr. Hamzah kemudian menjelaskan bahwa buah dari latihan ini semestinya termanifestasi dalam bentuk kesalehan sosial. Mengutip pemikiran Ibnu Taimiyah, kesalehan sosial adalah cerminan dari akhlak. Akhlak sendiri lahir dari hubungan harmonis antara manusia dan Tuhannya, yang lalu direfleksikan dalam relasi sosialnya. Akhlak bukan hanya tentang sopan santun atau etika, melainkan ekspresi menyeluruh dari integritas spiritual dan sosial. Contoh sederhana namun bermakna dapat dilihat dalam praktik salat berjamaah. Ketika imam melakukan kesalahan, makmum diperbolehkan mengingatkan, bahkan imam harus mundur jika batal, dan posisinya digantikan. Ini bukan hanya tentang ketentuan ibadah, tetapi juga pendidikan tentang kerendahan hati, tanggung jawab, dan kesiapan menerima koreksi. Nilai-nilai ini seharusnya menjadi bagian dari keseharian kita dalam bermasyarakat.
Namun, proses pembentukan akhlak tidak berhenti pada pelatihan internal. Nilai-nilai yang telah ditanamkan selama Ramadan harus ditransmisikan menjadi tindakan nyata dan ditransformasikan ke dalam perilaku sosial. Dalam konteks ini, zakat fitrah bukan hanya kewajiban materi, melainkan simbol konkret dari kepedulian sosial. Silaturahmi, saling memaafkan, berbagi makanan, dan sekadar tersenyum kepada sesama, semuanya adalah bentuk nyata dari kesalehan yang bersumber dari latihan spiritual.
Masalah yang kemudian mencuat, menurut Dr. Hamzah, adalah kegagalan pendekatan pendidikan Islam dalam menyeimbangkan antara taklim (transfer ilmu) dan taqwin (pembentukan karakter). Banyak dari kita sejak kecil diajarkan untuk salat, berpuasa, dan mengaji, namun tidak memahami alasan dan nilai di baliknya. Akibatnya, praktik keagamaan menjadi rutinitas kosong tanpa makna yang membekas. Inilah pentingnya mendahulukan pembentukan karakter, agar ilmu yang diperoleh bisa berakar dan memberi dampak dalam kehidupan nyata. Keterpaduan antara nilai spiritual dan sosial ini sebenarnya terangkum dalam konsep tauhid. Tauhid tidak hanya berarti meyakini keesaan Tuhan dalam tataran teologis, tetapi juga menegaskan kesatuan antara dimensi vertikal (hubungan dengan Tuhan) dan horizontal (hubungan dengan sesama). Seseorang yang benar-benar bertauhid akan memperlihatkan ketundukan pada Tuhan melalui perilaku yang adil, empatik, dan peduli kepada sesama manusia.
Sayangnya, sering kali kita menjumpai orang-orang yang secara ritual tampak religius, namun tidak mencerminkan kesalehan sosial. Ucapan yang menyakitkan, perilaku eksklusif, atau bahkan merasa diri paling benar adalah tanda bahwa nilai tauhid belum menyatu dalam dirinya. Dr. Hamzah menyebutnya sebagai kegagalan dalam mengintegrasikan tauhid secara utuh.
Dalam konteks ini, perintah “Iqra” (bacalah) dalam Al-Qur’an menjadi sangat relevan. Membaca dalam Islam bukan hanya aktivitas literasi teks, tetapi juga kemampuan membaca realitas, memahami kondisi sosial, dan menafsirkan situasi dengan empati. Orang yang mampu membaca situasi dan bertindak dengan kasih sayang sejatinya telah menjalankan perintah Ilahi secara komprehensif. Di akhirat kelak, manusia akan diminta membaca kitab amalnya sendiri: “Iqra’ kitabak.” Maka, selama hidup, tugas kita adalah menulis catatan-catatan amal yang baik, dengan cara membaca dan memahami hidup secara utuh—bukan hanya teks, tapi juga konteks dan realitas sosial yang melingkupi.
Dari semua proses ini, Idul Fitri menjadi puncak dari perjalanan spiritual dan sosial yang telah ditempuh selama Ramadan. Ia bukan sekadar pesta kemenangan atau hari libur tahunan, tetapi titik balik, saat kita kembali menjadi manusia yang utuh—suci, rendah hati, peduli, dan berakal sehat. Kesalehan sosial tidak muncul tiba-tiba, tapi merupakan hasil dari latihan panjang dalam mengelola diri. Seperti pesan Rasulullah SAW, Ibda’ binafsik — mulailah dari dirimu sendiri. Kesalehan sejati bukan hanya urusan vertikal dengan Tuhan, tetapi bagaimana ia menjelma menjadi kebaikan nyata di tengah masyarakat. Masyarakat yang diisi oleh individu-individu saleh akan tumbuh menjadi peradaban yang luhur dan bermartabat.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1445 H. Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin.
– Pasqa M