Pengembangan Ekonomi Regional Berdasarkan Pertanian dan Pariwisata di Lombok: Penelitian di Desa Kebon Ayu Kecamatan Gerung
Keywords:
ekonomi regional, pertanian, pariwisata, Desa Kebon Ayu, Growth pole theoryAbstract
Penelitian ini menganalisis potensi pengembangan ekonomi regional berbasis pertanian dan
pariwisata di Desa Kebon Ayu, Kecamatan Gerung, Lombok Barat. Pulau Lombok memiliki potensi
besar dalam kedua sektor ini, namun di Desa Kebon Ayu, potensi tersebut belum tergarap optimal
karena praktik pertanian tradisional yang kurang produktif dan pengelolaan pariwisata yang belum
maksimal, berdampak pada terhambatnya pertumbuhan ekonomi desa. Penelitian ini bertujuan
untuk menganalisis potensi sektor pertanian dan pariwisata, serta merumuskan strategi
pengembangan ekonomi regional yang terpadu. Menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif,
populasi penelitian adalah 400 kepala keluarga petani dan pelaku pariwisata di Desa Kebon Ayu.
Sampel diambil sebanyak 80 responden dengan teknik purposive sampling dan data dikumpulkan
melalui kuesioner terstruktur yang diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan secara
deskriptif statistik, korelasi Pearson, dan regresi linear sederhana dengan SPSS. Variabel yang
diteliti meliputi produktivitas pertanian, partisipasi pariwisata, akses pelatihan/teknologi,
peningkatan pendapatan, dan persepsi potensi ekonomi desa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
produktivitas pertanian masih rendah karena dominasi metode tradisional dan kurangnya akses
terhadap teknologi/pelatihan. Partisipasi masyarakat dalam kegiatan pariwisata juga minim.
Namun, ditemukan bahwa akses pelatihan/teknologi berpengaruh positif terhadap produktivitas
pertanian (sig < 0,05), dan terdapat korelasi kuat (r = 0,58) antara pengetahuan masyarakat tentang
potensi wisata dengan minat partisipasi. Minat terhadap pengembangan agrowisata juga tinggi
(45% responden). Analisis regresi menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas pertanian dan
partisipasi pariwisata secara signifikan berkontribusi pada peningkatan pendapatan masyarakat
(R² = 63%). Temuan ini selaras dengan Growth Pole Theory, yang mengindikasikan bahwa pertanian
dan pariwisata dapat menjadi "kutub pertumbuhan" yang menggerakkan ekonomi desa secara
multiplikatif.

