Pendidikan Tinggi: Mencetak Multi Kompetensi?

Bandung, FISIP
Oleh Ahmad Ali Nurdin, Ph.D. (Dekan Fisip UIN Sunan Gunung Djati Bandung)

Hari ini baru saja rapat dosen di fakultas. Rapat persiapan perkuliahan semester genap. Meskipun waktunya terpaksa mundur. Karena situasi covid meningkat. Terpaksa kampus harus lockdown dulu.

Sebagai yang diamanahi memimpin fakultas. Saya harus memberikan sambutan. Saya mulai dengan ucapan  terima kasih dan selamat datang. Kepada para dosen. Terima kasih atas pengabdiannya mengajar semester lalu. Selamat datang untuk kembali mengajar. Setelah libur tidak ada perkuliahan formal. Meskipun dosen masih tetap aktif. Melakukan kegiatan-kegiatan akademik lainnya. Di luar mengajar formal.

Saya sebutkan beberapa capaian prestasi. Yang diraih dosen dan fakultas. Selama satu semester ke belakang. Bertambahnya satu Guru Besar. Jadi fakultas punya empat guru besar. Ada tiga dosen yang sedang mengajukan GB. Bertambahnya dosen yang naik pangkat ke lektor kepala. Dari 4a, 4b dan 4c. Bertambahnya dosen yang menyelesaikan pendidikan S3 doktor. Banyaknya dosen yang mendapatkan hibah penelitian. Fakultas sudah memiliki 4 jurnal terakreditasi Sinta. Bulan ini segera mengajukan lagi satu jurnal baru. Untuk maju akreditasi Sinta. Dengan target tahun depan. Bisa submit ke scopus. Karena memang dirancang. Sejak awal publikasinya. Target terindeks scopus. Mudah-mudahan prestasi itu. Terus meningkat.

Menyambut awal semester. Saya perlu mengingatkan. Diri saya dan kolega dosen lainnya. Tentang pentingnya pendidikan tinggi. Saya mengutip laporan. Council Pendidikan Tinggi Eropa. Seri lima belas. Sudah lama laporan itu. Tahun 2010. Tapi masih kontekstual. Untuk konteks sekarang. Bukan hanya konteks Eropa. Bahkan juga konteks Indonesia. Itu dalam pandangan saya. Tentang Pendidikan tinggi bagi masyarakat modern: Antara kompetensi dan nilai. Demikian judul laporan itu.

Laporan itu menyebutkan. Pendidikan tinggi punya tugas dan kewajiban. Bukan hanya menyiapkan calon-calon sarjana. Yang ahli di bidangnya masing-masing. Tapi juga punya tugas. Menanamkan nilai-nilai Eropa. Kepada calon-calon sarjana. Beberapa nilai Eropa. Yang sudah banyak diketahui orang. Demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan Rule of Law.

Dalam hal demokrasi. Konon Eropa. Dalam sejarahnya. Pernah terjadi. Ada kecenderungan masyarakatnya. Mulai meninggalkan nilai-nilai demokrasi. Ada transisi dari demokratis menuju ekstrimisme, otokrasi juga autoritarianisme. Ini sejarah buruk. Yang jangan sampai terjadi dan berulang lagi.

Tapi menurut laporan itu, di tahun 2010. Ada kecenderungan baru. Dari data statistic. Bahwa partisipasi politik masyarakatnya. Dalam pemilihan umum. Menunjukkan bahwa prosentasi pemilih dengan latar belakang non-pendidikan tinggi. Lebih besar jumlahnya. Dibandingkan prosentasi partisipasi pemilih. Dengan latar belakang pendidikan tinggi.

Hal ini menimbulkan. Beberapa pertanyaan penting. Apakah selama ini perguruan tinggi di Eropa. Ikut mengajarkan dan mensosialisasikan. Kepada mahasiswa-mahasiswanya. Tentang nilai-nilai demokrasi? Bagaimana seharusnya universitas melakukan ini? Bagaimana caranya universitas: tidak hanya mengajarkan dan menyiapkan skill calon sarjana. Menyambut bursa lapangan kerja. Tapi juga memotivasi mahasiswa untuk tahu dan mempraktekkan nilai-nilai demokrasi.

Bagi konteks sekarang di Indonesia. Tulisan ini sangat relevan. Apalagi dalam dua tahun terakhir. Indeks demokrasi Indonesia dianggap sedang menurun. Meskipun tahun ini trend nya dianggap sedang naik lagi. Bagi konteks mahasiswa Indonesia. Atau masyarakat secara umum. Pertanyaan-pertanyaan itu. Bisa dikembangkan. Benarkah dan jika benar mengapa masyarakat kita. Menjadi kurang menghargai nilai-nilai demokrasi. Kurang menghargai nilai-nilai toleransi. Nilai-nilai cinta tanah air. Nilai-nilai kebangsaan. Juga nilai-nilai keislaman.

Mungkin lanjutannya. Dan ini perlu penelitian kita bersama. Jangan-jangan. Aplikasi dan implementasi nilai-nilai demokrasi. Nilai-nilai toleransi. Nilai-nilai nasionalisme. Nilai-nilai keislaman. Nilai-nilai keindonesian. Pada warga dengan latar belakang pendidikan tinggi lebih rendah dari kalangan warga biasa. Tanpa gelar Pendidikan tinggi.

Karenanya. Adalah tugas dari kita semua. Terutama para dosen dan akademisi. Untuk memikirkan hal ini. Bagi para dosen yang mau mengajar semester ini. Warning ini perlu diantisipasi. Karena eksistensi mahasiswa atau sarjana. Juga manusia secara umum. Bukan hanya ditentukan. Oleh siap bersaing dipasaran kerja. Dan berhasil mendapatkan pekerjaan.

Seperti kata Weber dan Bergan (2005). Dalam Public Responsibility for Higher Education and Research. Ada empat tujuan Pendidikan tinggi. 1) Menyiapkan sarjana yang siap bekerja; 2). Menyiapkan lulusan yang siap menghidupkan dan hidup dalam masyarakat demokratis; 3). Mengembangkan personalitas dan sikap calon sarjana; dan 4). Mengembangkan dan mempertahankan sarjana yang siap mengajar, siap terus belajar, siap riset dan mengembangkan ilmu pengetahuan.

Karenanya, Pendidikan tinggi. Jangan bersipat eklusif dan hanya mereduksi tujuannya. Untuk menyiapkan calon sarjana. Yang hanya punya satu keahlian. Untuk siap bekerja sesuai keahliannya.

Calon-calon sarjana. Perlu banyak memiliki kompetensi. Dan memegang teguh nilai-nilai luhur. Bagi konteks Indonesia. Nilai-nilai luhur demokrasi. Nilai-nilai luhur toleransi. Nilai-nilai luhur nasionalisme. Kebangsaan dan Keindonesiaan. Dibingkai dengan nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil’alamin. Nilai rahmat bagi makhluk berakal. Dan nilai rahmat bagi makhuk tidak berakal secara umum.

Karenanya. Perlu diajarkan kepada mereka. Para mahasiswa. Bukan hanya tentang kompetensi keilmuannya. Tapi ajarkan lah nilai-nilai mulia itu. Juga ajarkan kepada mereka kemampuan menganalisa, kemampuan berkomunikasi, kemampuan bekerja mandiri, begitu juga kemampuan bekerja dalam tim.

Bagi Sjur Bergan dan Radu Damian (2010). Memang ahli dalam satu disiplin ilmu  (subject specific) dan memiliki kompetensi generic (generic competencies) adalah penting. Tetapi tidak kalah penting juga. Kita menyadari bahwa calon-calon sarjana tidak akan hidup. Dalam dunia yang monoton. Dunia yang terpisah. Hanya mengandalkan satu kompetensi keahliannya. Para sarjana akan hidup. Pada dunia yang kompleks. Dunia yang penuh dinamika. Dunia yang tidak cukup hanya memiliki satu keahlian khusus. Perlu keahlian lain. Perlu memiliki kecerdasan. Beradaptasi dengan dinamika dunia dan kehidupan.

Pendidikan tinggi. Mahasiswa dan dosen. Punya tantangan baru. Dunia yang menyatu, Dunia yang mengglobal. Bagi Kathia Serrano (2010), ada tantangan baru perguruan tinggi. Harus siap merespon. Minimal tiga aspek yang perlu didiskusikan: 1). Responsive terhadap kompleksitas dunia; 2). Responsif terhadap perbedaan dan diversitas budaya; 3). Melakukan aksi nyata dalam dunia global: sebagai tanggung jawab social.

Akhirnya mudah-mudahan para dosen bisa mengajarkan mahasiswa bukan hanya kompetensi keahlian khususnya. Tapi juga kompetensi lain serta nilai-nilai. Mahasiswa perlu dibekali apa yang disitilahkan Sjur Bergan sebagai “converging competencies”. Mudah-mudahan core values yang selama ini saya kampanyekan di FISIP yaitu Flexibility, Integrity, Social Responsibility, Innovation dan Politeness juga bisa disampaikan oleh para dosen selain mengajarkan dan membekali mahasiswa dengan kompetensi utamanya. Amin*****

Slot Deposit Dana Slot Deposit Dana