Pelayanan Publik Dalam Bayang-Bayang Tambang : Dilema Kebijakan Pariwisata Di Raja Ampat
Keywords:
Kebijakan PublikAbstract
Penelitian ini membahas permasalahan kebijakan yang muncul akibat adanya konflik antara pembangunan sektor pariwisata dan pertambangan di wilayah Raja Ampat, Papua Barat, dengan fokus utama pada dampak yang ditimbulkan terhadap mutu layanan publik, kelestarian lingkungan, serta kondisi sosial dan ekonomi masyarakat lokal. Raja Ampat dikenal secara luas sebagai salah satu kawasan dengan keanekaragaman hayati laut yang paling kaya di dunia dan telah berkembang menjadi destinasi wisata bahari yang unggul, yang memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian masyarakat setempat. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, perluasan aktivitas pertambangan nikel telah memunculkan ancaman serius terhadap kelangsungan ekosistem, keberlanjutan sektor pariwisata, serta kesejahteraan masyarakat adat yang tinggal di kawasan tersebut. Dengan menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif yang berbasis pada data sekunder, studi ini menemukan bahwa kebijakan pemerintah yang kurang transparan serta minimnya keterlibatan masyarakat adat dalam proses pemberian izin pertambangan telah menimbulkan konflik sosial dan menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Di sisi lain, pemerintah daerah bersama dengan masyarakat lokal secara tegas menuntut agar prioritas pembangunan tetap diarahkan pada pengembangan pariwisata yang berkelanjutan. Berbagai upaya telah dilakukan, termasuk pencabutan izin pertambangan yang bermasalah, penguatan koordinasi antar sektor terkait, serta rencana untuk menetapkan Raja Ampat sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang berfokus pada pariwisata hijau dan ramah lingkungan, yang merupakan langkah strategis penting yang harus terus diperkuat. Temuan dari kajian ini menegaskan bahwa pelayanan publik yang bersifat transparan, melibatkan partisipasi masyarakat secara luas, dan berkeadilan merupakan fondasi utama yang perlu dijaga agar masa depan Raja Ampat sebagai warisan alam dunia dan sumber penghidupan yang berkelanjutan bagi masyarakatnya dapat terjamin.
References
Ahmad Sholikin. (2021). Kajian Model Demokrasi : Teori dan Paradigma. Jurnal Politik Dan Sosial Kemasyarakatan, Vol 13 No 2 (2021), 170–170.
Antara News. (2025, Juni 12). Bupati Raja Ampat Sebut Pariwisata Prioritas Pembangunan Bukan Pertambangan.
Debrina, Y. (2025). Ironi penambangan Raja Ampat: Bukti ketidaksiapan pemerintah kelola pulau-pulau kecil. Kompas.id.
Governance for Sustainable Human Development. United Nations Development Programme.
Greenpeace. (2025). Laporan Dampak Pertambangan Nikel di Raja Ampat.
Hamsinah, B. (2017). Strategi perencanaan dan pengembangan pariwisata di Papua Barat berbasis masyarakat. Jurnal Inovasi, 14(2), 45–55.
Hood, C. (1991). A public management for all seasons? Public Administration, 69(1), 3– 19
Jogoena, A. B. (2025). Ketidakselarasan kebijakan tambang di Raja Ampat. Kompasiana. Mongabay Indonesia. (2023). Raja Ampat Terancam Tambang Nikel, Masyarakat Adat dan
Aktivis Lingkungan Bergerak. Diakses dari:
https://www.mongabay.co.id/2023/09/14/raja-ampat-terancam-tambang- nikel/
Katingka, N. (2025). RIPPADA Raja Ampat: Ketegangan antara pariwisata dan tambang.
Scribd.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). (2024). Data Keanekaragaman Hayati Laut Raja Ampat.
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI. (2022). Raja Ampat dalam Peta Destinasi Prioritas Ekowisata Nasional. Diakses dari: https://www.kemenparekraf.go.id/
Kementerian Pariwisata (Kemenpar). (2025). Tiga Langkah Strategis Kementerian Pariwisata Tangani Isu Tambang Nikel di Raja Ampat.
Parlementaria. (2025, Juni 10). Pertambangan di Raja Ampat Harus Dikaji Ulang, Jangan Ganggu Pariwisata dan Warga. DPR RI eMedia.
Radhit, S. (2025). Tambang Raja Ampat: Dilema ekonomi dan pentingnya manajemen SDA berkelanjutan
Tempo.co. (2025, Juni 7). Ramai Tambang Nikel Raja Ampat, Kemenpar Lakukan Tiga Langkah Ini.
World Commission on Environment and Development. (1987). Our Common Future.
Oxford University Press.


