Dilarang Tapi Bertahan: Respons Tukang Becak Terhadap Kebijakan Transportasi Di Kota Bandung

Authors

Keywords:

Kebijakan Publik; Becak; Transportasi; Perkotaan; Respons Kebijakan

Abstract

Transportasi perkotaan memiliki peran penting dalam
mendukung mobilitas masyarakat dan pembangunan kota. Namun,
kebijakan modernisasi transportasi sering menimbulkan dampak bagi
pekerja informal yang bergantung pada moda transportasi tradisional,
seperti becak. Penelitian ini bertujuan menganalisis respons tukang becak
terhadap kebijakan pelarangan becak di Kota Bandung, mengetahui
tingkat pemahaman mereka terhadap kebijakan tersebut, serta
mengidentifikasi faktor yang menyebabkan mereka tetap beroperasi.
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif.
Data diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur terhadap tiga
tukang becak yang masih aktif beroperasi di kawasan Kiaracondong, Kota
Bandung, kemudian dianalisis menggunakan model Miles, Huberman, dan
Saldaña. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar informan
tidak memahami secara jelas adanya kebijakan pelarangan becak karena
minimnya sosialisasi dari pemerintah. Faktor ekonomi, keterbatasan
pilihan pekerjaan, dan usia yang relatif lanjut menjadi alasan utama
mereka tetap bekerja sebagai tukang becak. Penelitian ini menegaskan
bahwa keberhasilan kebijakan memerlukan sosialisasi yang efektif dan
perhatian terhadap kondisi sosial-ekonomi kelompok sasaran.

Downloads

Published

2026-09-13