Vaksin, Politik, dan Ideologi – Fisip

Vaksin, Politik, dan Ideologi

Oleh : Prof. Ahmad Ali Nurdin, M.A., Ph.D. (Dekan Fisip UIN Sunan Gunung Djati Bandung)

Kabar gembira itu akhirnya datang. Bagi sebagian orang. Mungkin tidak bagi yang lain. Tepatnya bukan tidak, tapi ragu. Datangnya vaksin. Untuk memutus Covid 19. Eureka!

Amerika sudah memulai vaksinasi. Begitu juga Inggris dan beberapa negara lainnya. Indonesia sebentar lagi. Vaksin sudah mulai didistribusikan. Insya Allah pertengahan Januari sudah bisa dimulai.

Dengan mulai vaksinasi, terbersit harapan. Covid bisa diatasi. Ekonomi bisa bergerak. Bahkan Bank Dunia berani memprediksi. Pertumbuhan ekonomi dunia bisa empat persen tahun 2021. Jika skenario vaksinasi sukses.

Setinggi itukah harapan kita? Boleh yah, boleh tidak. Terutama kalau lihat diskusi tentang vaksin di medsos. Isu yang menolak vaksin. Dengan berbagai alasan. Tidak hanya di Indonesia tapi juga di beberapa negara di dunia. Bahkan di Amerika.

Inilah tantangannya. Bagaimana menumbuhkan public trust. Mau divaksin demi kemaslahatan bersama. Apalagi kalau sudah dikaitkan dengan politik. Perlu political trust. Lihatlah tulisan Sarah Kreps dan Douglas L. Kriner. Yang mempertanyakan kepercayaan public atas vaksin. Itu di Amerika. Will Americans trust a COVID-19 vaccine? Not if politicians tell them to, tulis mereka.

Kreps dan Kriner melontarkan pertanyaan dalam artikelnya. Bagaimana politisi bisa meyakinkan rakyat Amerika agar mau divaksin. Jawabannya sederhana, suruh politisi diam. Biarkan ilmuan dan ahli kesehatan masyarakat yang bicara. Tentang fakta vaksin bagi rakyat Amerika. Sampai segitunya. Public trust terhadap politisi di masa covid. Saya tidak tahu di masa normal di Amerika.

Bagaimana dengan di Indonesia? Mari kita berdo’a mudah-mudahan vaksinasi berjalan lancar. Partisipasi masyarakat tinggi. Sekali lagi, demi kemaslahatan bersama.

Berbicara tentang vaksin memang banyak variabelnya. Bukan hanya soal kesehatan. Juga politik. Bahkan ideologi. Hal ini sudah lama berlangsung. Bukan hanya soal vaksin covid 19.

Saya kutipkan bukti. Tentang vaksinasi sebelumnya. Vaksinasi kaitannya dengan ideologi. Ada tulisan di jurnal ilmiah karya Bert Baumgaertner, Juliet E. Carlisle dan Florian Justwan. Judulnya Pengaruh Ideologi Politik dan Kepercayaan terhadap Kemauan untuk divaksin.

Mereka melakukan penelitian. Di negara sono, bukan di Indonesia. Beberapa hipothesis mereka coba jawab dalam study-nya.

Diantara hipotesis-hipothesis itu adalah:

  1. Individu yang ideologi politiknya lebih konservatif cenderung tidak mau divaksin dibandingkan orang yang kurang konservatif.
  2. Orang yang tingkat kepercayaannya tinggi terhadap ahli kesehatan pemerintah mempunyai sikap pro-vaksinasi dibandingkan dengan orang yang tingkat kepercayaannya rendah.
  3. Orang yang tingkat kepercayaannya tinggi terhadap fasilitas kesehatan mempunyai keinginan tinggi untuk divaksin dibandingkan yang tingkat kepercayaannya rendah.
  4. Orang yang lebih konservatif mempunyai kepercayaan yang rendah terhadap ahli kesehatan pemerintah dibandingkan orang yang kurang konservatif
  5. Orang yang lebih konservatif mempunyai kepercayaan yang rendah terhadap fasilitas kesehatan dibandingkan orang yang kurang onservatif.
  6. Hasilnya menunjukkan bahwa isu vaksinasi sangatlah kompleks. Bukan sekedar pertimbangan resiko, biaya, keuntungan dan kekurangan. Tetapi, karakter sosio-politik seseorang berpengaruh terhadap sikap mereka tentang vaksinasi.
  7. Intensitas dan keinginan untuk vaksinasi berbeda antara orang dengan ideologi konservatif dan liberal. Kaum konservatif intensitasnya terlihat kurang.
  8. Orang yang tingkat kepercayaan terhadap ahli kesehatan pemerintah-nya rendah, maka intensitas untuk vaksinasi juga rendah. Dan mereka itu adalah orang-orang yang konservatif.

Arti temuan di atas adalah bahwa ideologi politik seseorang berpengaruh signifikan terhadap intensitas dan kemauan untuk divaksinasi.

Itu pengaruh ideology politik. Di negara sekuler. Bisa kita bayangkan, bagaimana tantangan vaksinasi pada masyarakat yang menjadikan agama sebagai basis ideologi. Negara dengan variasi agama. Apalagi dengan variasi interpretasi agama meskipun sama agamanya. Tentu tambah berat. Adalah PR besar yang perlu dicarikan solusinya. Nampaknya menarik juga untuk melakukan penelitian tentang isu ini. Jika belum ada yang meneliti. Saya belum sempat melakukan literatures review. Siapa mau mencoba?.***

Tags
This website uses cookies and asks your personal data to enhance your browsing experience.
slot deposit pulsa casino online deposit pulsa slot deposit dana 10000 slot deposit e money slot deposit dana slot online terpercaya slot online id pro slot online mpo slot online slot pragmatic play slot joker123 gacor situs judi togel resmi situs judi togel resmi slot live22 mudah menang slot online deposit pulsa slot online pulsa 5000 slot pragmatic mudah menang bola sbobet slot online deposit dana
Nxslot88 Nxslot88 Daftar Nxslot88 Slot Pragmatic Gacor Lexusmpo Slot Live22 Tangkasnet Gacor388 Slot Online Slot Deposit Pulsa Slot Mudah Menang Daftar Slot Pragmatic Daftar Slot Joker123 Slot Bonus New Member IDN Poker Online Poker Deposit Pulsa Live Casino Online
Slot Deposit Dana Slot Deposit Dana